Perjalanan Nailla Nintiya Diningrum Menuju Keteguhan Diri

 

Foto Nailla Nintiya Diningrum (dok Nailla Nintiya D)

Nailla Nintiya Diningrum, atau akrab disapa dengan Nailla. Perempuan kelahiran Bekasi, 19 Juni 2006, merupakan seorang mahasiswi jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, progam studi D3 Penerbitan/Jurnalistik di Politeknik Negeri Jakarta. Saat ini ia berusia 19 tahun.

Nailla merupakan anak ke dua dari empat bersaudara. Ia memiliki satu kakak laki-laki bernama Abdul Latif serta dua adik laki-laki bernama Fahri dan Hafiz. Nailla menempuh pendidikan mulai dari TK Al-Hidayah Bekasi, SDN Pekayon Jaya 2, SMPN 12 Kota Bekasi, dan SMAN 8 Kota Bekasi. Ia dikenal sebagai sosok yang penuh perencanaan dan terstruktur. Ia selalu memikirkan langkah-langkah sebelum bertindak, bahkan untuk hal kecil seperti presentasi. Ia terbiasa membuat rencana jangka panjang agar siap menghadapi segala kemungkinan. 

Selain tekun belajar, Nailla juga memiliki tiga hobi, yaitu menulis, membuat kue, dan menonton film. Ia sering menulis di buku catatan seperti diary atau menulis blog pribadi.  Sebelum berkuliah di Politeknik Negeri Jakarta Nailla memiliki impian besar untuk menjadi dokter. Ia telah berusaha keras mewujudkan cita-cita itu dengan mendaftar ke Fakultas Kedokteran di UIN Jakarta dan UPNVJ, namun belum berhasil. Ia kemudian memutuskan untuk gap year selama satu tahun dan kembali mencoba peruntungan di FMIPA UNJ jurusan Biologi pada tahun 2025, tetapi hasilnya masih belum sesuai harapan.

Masa itu menjadi masa di mana Nailla sempat merasa pesimis dan meragukan kemampuannya sendiri, terutama ketika ia tidak bisa melanjutkan kuliah pada tahun yang ia rencanakan. Namun, masa itu justru menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Selama setahun, ia mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan seperti bekerja, mengikuti seminar, hingga membantu merawat dan membesarkan adik-adiknya.

Saat menjalani masa gap year, ia sempat merasa tertinggal dari teman-teman lain yang sudah lebih dulu kuliah. Namun, yang membuatnya kuat adalah keyakinan bahwa belajar tidak akan pernah sia-sia. Prinsip itu yang membuatnya terus bangkit setiap kali gagal. Dari pengalaman tersebut, Nailla menyadari bahwa proses belajar tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Belajar tidak selalu lewat buku atau lembaga pendidikan formal, melainkan bisa datang dari setiap pengalaman yang dijalani.

Kesadaran itu muncul sepenuhnya ketika ia menengok ke belakang dan melihat bahwa tahun yang ia anggap berat ternyata berhasil dilalui. Dari situ, Nailla belajar untuk lebih menerima kegagalan dengan lapang dada. Baginya, kegagalan terjadi ketika seseorang berhenti berusaha. Selama masih mau bangkit berarti belum gagal, hanya belum berhasil. Ia memilih kuliah di Politeknik Negeri Jakarta bukan karena menyerah pada mimpinya, tetapi setiap langkah pasti mempunyai makna. 

Nailla memilih jurusan Penerbitan karena suka menulis. Awalnya, ia mengira penerbitan lebih banyak tentang percetakan karena ia ingin membuat buku, namun setelah dijalani, ia justru menemukan dunia jurnalistik yang baru dan menarik baginya. Ia berharap bisa memperbaiki kemampuan menulisnya agar lebih terarah dan rapih. Ia juga bercita-cita menjadi editor buku, yaitu seseorang yang berperan dalam menyempurnakan tulisan menjadi lebih hidup dan bermakna.  

Nailla bukan hanya seseorang yang pintar dan rajin, tetapi juga sosok yang kuat, sabar, dan tidak mudah menyerah. Ia selalu memandang hidup sebagai proses belajar tanpa henti. Dari dirinya kita belajar arti keteguhan bahwa mimpi tak selalu datang cepat, tetapi dengan keyakinan dan kerja keras, bahwa setiap langkah akan tetap membawa kita ke arah yang benar.

Komentar

Postingan Populer